Beberapa waktu lalu, sejumlah penduduk dunia digegerkan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Flat Earth Society (FES) yang mengatakan bahwasanya bumi ini berbentuk lempengan datar. Begitu banyaknya bukti yang diajukan para penganut FES sehingga terjadi perdebatan sengit di kalangan para ahli astronomi. Masyarakat pun, yang selama ini telah mengenal bahwa bumi berbentuk bulat, dibuat bingung dengan teori konspirasi tersebut.
Lantas
bagaimanakah pandangan Islam dan Al-Qur’an menyikapi perbedaan teori tersebut?
Sebenarnya adu
argumen yang mempertanyakan apakah bumi itu bulat ataukah datar telah ada bahkan
sejak zaman para ulama’ terdahulu. Para ulama’ seperti Imam Al-Qurthubi,
Al-Qathani Al-Andalusy, dan Syekh Abdul Aziz bin Baz dengan tegas menyatakan
bahwa bumi berbentuk datar dengan menganut dalil – dalil Al-Qur’an, di mana,
menurutku mereka, Al-Qur’an sama sekali tidak pernah menyebutkan bahwa bumi ini
berbentuk bulat. Pernyataan ini pun digunakan oleh para penganut FES untuk
memperkuat teori mereka.
Uniknya, Al-Qur’an
memang tidak pernah dengan gamblang menyebutkan bahwasanya planet bumi tempat
tinggal manusia ini berbentuk bulat. Sebaliknya, Al-Qur’an justru berulang-ulang
mengatakan bahwa bumi ini adalah hamparan, seakan – akan mengatakan bahwa bumi
ini berbentuk datar.
......الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ
فِرَاشًا
(Dia-lah Allah) yang menjadikan
untukmu bumi sebagai hamparan (Al-Baqarah : 22)
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا[]
Dan Allah yang menjadikan untukmu bumi
sebagai hamparan (Nuh : 19)
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا[]
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?
(An-Naba’ : 6)
Dalam ayat tersebut terdapat tiga
kata yang berbeda yakni فِرَاشًا، بِسَاطًا
dan مِهَادًاyang artinya sama – sama merujuk
pada makna berupa hamparan. Sedangkan makna “hamparan” dalam perspektif
kebahasaan kita memiliki arti yakni sesuatu yang datar. Dengan kata lain, ayat
ini dianggap telah menjelaskan secara nyata bahwa planet bumi ini berbentuk
datar.
Akan tetapi, apakah memang benar
demikian? Apakah Allah memang menciptakan bumi ini berbentuk datar?
Tentunya ayat – ayat Al-Qur’an yang
agung tidak dapat diartikan secara tekstual begitu saja. Dibutuhkan ilmu
pengetahuan dan penafsiran yang mendalam untuk mengetahui hakikat makna dari
Al-Qur’an. Seringkali bahkan Allah Azza wa Jalla memfirmankan ayat-ayatNya
sebagai sebuah isyarat saja, untuk menuntut hamba-hambaNya berpikir lebih jauh
dan melakukan penelitian lebih dalam.
Dikatakan
oleh Syekh Al-Sinqithi dan Syekh Ar-Razi, bahwasanya makna bumi sebagai
hamparan memiliki arti yang dalam. Al-Qur’an mengatakan bahwa yang dihamparkan
bukan bagian bumi tertentu, akan tetapi “bumi” secara mutlak. Dengan demikian
dapat diambil kesimpulan, bahwasanya dimanapun seseorang berpijak di muka bumi,
ia akan selalu menemukan bahwa bumi terhampar di hadapannya. Kemanapun
seseorang berjalan, ia tidak akan pernah menemukan ujung dunia karena bumi akan
terus terhampar hingga ia mendapati dirinya kembali ke tempatnya semula
berjalan.
Selain itu, Syekh Al-Utsaimin menjelaskan, dalam beberapa
ayat tersebut terdapat kata "لَكُم" yang berarti “bagimu”. Allah
menjadikan “bagi manusia” bumi itu terhampar, untuk kelangsungan hidupnya.
Bukan berarti bahwa bumi itu benar-benar datar. Hal ini sejalan dengan fakta yang
diungkapkan para ahli astronomi modern mengenai garis horizon bumi atau garis
cakrawala. Mengapa kita selalu mendapati garis cakrawala itu lurus melintang
sejauh mata memandang, tanpa ada lengkungan sedikit pun yang menandakan bahwa
bumi itu bulat? Para pakar astronomi memaparkan bahwa keberadaan garis
cakrawala yang lurus tersebut justru membuktikan bahwasanya bumi berbentuk
bulat. Karena ketiadaan garis lengkungan menandakan bahwasanya hamparan bumi
membentang tanpa ujung. Dan satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengenai
fakta ini adalah bahwa bumi itu bulat.
Kemudian adakah dalil Al-Qur’an yang menyatakan bahwa
bumi itu bulat?
Allah menyiratkan fakta ini dalam firmanNya, Surah Az-Zumar
: 5
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ
بِٱلْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ ٱلَّيْلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ
وَٱلْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ
ٱلْغَفَّٰارُ[]
Dia
(Allah) menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia memasukkan (menggilirkan)
malam atas siang dan memasukkan siang atas malam. Serta menundukkan matahari
dan bulan, sehingga masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.
Ingatlah! Dia-lah Yang Maha Mulia lagi Pengampun (Az-Zumar : 5)
Syekh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hazm mengatakan
bahwasanya bukti terjadinya pergantian siang dan malam adalah dalil yang paling
nyata mengenai planet bumi yang berbentuk bulat. Bagaimana mungkin malam dan
siang hari terjadi secara bersamaan dalam bumi yang sama? Bagaimana mungkin di
satu sisi bumi, matahari terbenam sedang di sisi yang lain matahari terbit?
Lebih lanjut Ibnu Taimiyah memaparkan, bahwa
dalam Surah Az-Zumar ayat 5 terdapat kata يُكَوِّرُ
yang berasal dari kata كَوَّرَ, yang
dalam kaidah bahasa Arab mengandung pengertian “melapisi pada sesuatu yang
bundar” di mana akar katanya sampai pada kata كُرَّة, sebagaimana yang pembaca ketahui berarti bola
atau merujuk pada sesuatu yang bulat. Dengan demikian, Allah telah memfirmankan
bahwa siang dan malam saling bergilir menutup sesuatu yang bulat, yang tidak
lain adalah bumi.
Dilanjutkan dengan pendapat Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah yang mengatakan bahwa terjadinya gerhana bulan dan adanya cahaya
bulan yang berasal dari pantulan sinar matahari adalah keniscayaan bagi teori
bumi datar.
Pendapat – pendapat itu disepakati oleh Abu
Husain Ibnu Munadi yang berfatwa :
لا خلاف بين العلماء أن لأرض على
مثال الكرة
“Tidak ada perselisihan diantara para ulama’ bahwa bumi itu
seperti bola”
Pada akhirnya, pendapat para ulama’ tersebut ditutup oleh
pernyataan Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang mengatakan :
ليس هناك نص قاطع يؤيد أحد
الوجهين المختلفين …بعض الآيات من القرآن الكريم التي تتعلق بهذا الموضوع يمكن أن
يفهم منها ثبات الأرض وسطحيتها ، والبعض الآخر يمكن أن يفهم منها حركتها ودورانها
“Tidak ada dalil tegas yang mendukung dua pendapat
yang berbeda ini… sebagian ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hal ini bisa
jadi dipahami bahwa bumi itu tetap dan datar, sedang sebagian ayat lainnya bisa
saja dipahami bumi bergerak dan berputar”
Maha Suci Allah yang mencipta alam semesta
ini dengan sempurna. Yang di dalamnya diselipkanNya keagungan ilmuNya.
Bagaimana Allah mengajarkan hamba-hambaNya untuk selalu belajar dan tidak
pernah putus asa dengan ilmu pengetahuan.
Terakhir, sebagai hamba Allah, kita diperintahkan
untuk selalu mentafakkuri dan mempelajari ayat – ayat Allah. Ketika kita
melihat langit, tidakkah kita berpikir, bagaimana mungkin bumi ini datar
sedangkan matahari, bulan, dan planet – planet lainnya berbentuk bulat dan
saling mengorbit garis edarnya? Wallahu a’lam bish shawab.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar