Sabtu, 02 September 2017

Islam, Muslim, dan Bahasa Arab


     Kini berbagai media di seluruh dunia sedang sibuk memperbincangkan tentang isu "Islamophobia" atau yang biasa diartikan sebagai teror kaum muslim, para pemeluk agama Islam, yang memerangi dan membumihanguskan orang - orang yang tidak memeluk agamanya, sehingga penduduk di seluruh dunia menjadi resah dan takut akan eksistensi agama Islam. Orang - orang mulai
berpandangan bahwasanya agama Islam adalah agama yang keras dan brutal. Agama Islam adalah paham yang menindas orang - orang tak berdosa yang memaksa siapa saja untuk menjadi pengikutnya. Dan karenanya, dunia sepakat untuk mencap agama islam sebagai ajaran yang jahat dan layak dimusnahkan dari peradaban manusia.
       Namun, apakah kenyataannya memang seperti itu?
       Apakah memang benar, agama Islam merupakan agama yang keras dan non-toleransi?
       Apakah memang benar, ajaran Islam mengajarkan penindasan dan pemaksaan?
       Apakah memang benar, agama Islam adalah teror bagi dunia alih - alih sebagai rahmatan lil 'alamin??
       Lantas, apabila agama Islam memang bukan seperti yang dituduhkan kebanyakan orang dewasa ini, apa yang menyebabkan agama Islam disalahartikan sebagai perkara yang negatif? Siapa yang harus disalahkan?
       Jawabannya tidak lain ada di dalam diri kita sendiri sebagai insan yang berilmu dan beriman.
     Allah SWT melalui utusanNya, menurunkan agama Islam dengan berbagai ajaran dan tuntunannya sebagai pedoman hidup seluruh umat sekaligus untuk menjawab segala tantangan dunia di setiap zaman. Akan tetapi apa yang menjadikan orang - orang di seluruh dunia gagal memahami pesan agung dari Sang Pencipta alam semesta tersebut?
       Orang - orang muslim masa kini tengah mengalami kemunduran total. Para pemeluk agama Islam tidak lagi memahami hakikat sejati dari ajaran yang dianutnya dan keyakinan yang diimaninya. Keilmuan yang kaya telah menyelewengkan banyak orang muslim untuk terlalu meyakini bahwasanya agama Islam adalah perkara yang paling benar di seluruh dunia, dan karenanya, seluruh dunia wajib hukumnya untuk menganutnya. Kurangnya perenungan dan pemahaman dari segala aspek adalah salah satu penyebab utama dari kemunduran umat Islam tersebut. 
       Mengapa bisa begitu? Penulis berpendapat bahwasanya, dengan menilik gaya kehidupan masa kini, umat muslim yang hidup di era modern ini tidak lagi menjalani laku tirakad sebagaimana yang dijalani umat-umat muslim terdahulu untuk mendapatkan ilmu sejati tentang ajaran yang diyakininya. Orang - orang muslim terdahulu membutuhkan waktu berpuluh - puluh tahun dengan usaha yang luar biasa berat hanya untuk memperoleh satu ilmu tentang agama Islam. Namun ilmu yang diperoleh dahulu, benar-benar merupakan mutiara agung dan emas murni yang mampu menerangi jiwa siapa saja yang yang mendengarnya. Sehingga dahulu, agama Islam laksana cahaya yang ajarannya membawa keberkahan bagi seluruh dunia bahkan bagi merekayang bukan penganut agama Islam, berkat usaha yang gigih dan tulus dari para pejuang ilmunya.
         Akan tetapi, bagaimana dengan umat muslim masa kini?? Kita tahu bahwasanya zaman semakin berkembang dan teknologi semakin maju. Dunia pendidikan pun mengalami revolusi besar - besaran. Pembelajar - pembelajar masa kini tidak lagi dituntut untuk menjalani tirakad-tirakad hanya demi mendapatkan secuil pengetahuan. Tidak juga diharuskan memulai proses belajarnya dari titik paling dasar yakni mengenai hakikat ilmu. Kemajuan metode pembelajaran telah menemukan jalannya untuk menciptakan sistem pembelajaran yang praktis : tidak membutuhkan waktu lama namun memperoleh kuantitas pengetahuan yang banyak. Belajar ilmu agama tidak lagi harus dengan mengaji kitab - kitab berbahasa Arab kuno dan mentawadhu'i sang guru sebagai ritual sahnya ilmu dari pengajar kepada orang yang belajar. Teknologi pendidikan telah mengubah itu semua menjadi suatu sistem kurikulum dengan berbagai aksesorisnya.
        Memang benar, sistem pengajaran menjadi lebih efektif dan efisien sehingga menghasilkan insan cendekia dengan pengetahuan yang kaya. Namun sungguh disayangkan, sistem pendidikan sebagaimana yang tengah marak baru - baru ini - ini telah menghilangkan esensi dasar dari ilmu. Yakni, keberkahan ilmu. Seperti yang diungkapkan oleh pengasuh Pesantren Modern Al-Amanah, KH. Nur Cholis Misbah : لَيْسَ الْعِمُ بِكَثْرَتِهِ، بَلْ بِبَرَكَتِهِ "Ilmu bukan karena banyaknya, tetapi berkahnya"
             Apa makna ilmu yang berkahnya? Ilmu yang berkah adalah ilmu yang membawa kepada kebaikan dan kemaslahatan alih - alih peperangan dan kekerasan.
        Bagaimana cara agar kita dapat memperoleh ilmu yang berkah? Salah satunya adalah dengan mempelajari ilmu langsung dari sumber aslinya. Belajar ilmu agama haruslah ditempuh dengan belajar di pondok pesantren dan mengaji kitab - kitab yang dikarang para ulama' dan imam dengan terus mengedepankan tawadhu' kepada guru dan mu'allim.
              Dalam hal ini, penguasaan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur'an dan hadist, rujukan utama umat muslim, menjadi sangat penting artinya untuk diperhatikan. Melatih kemampuan bahasa Arab pun menjadi wajib hukumnya bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu
agama secara mendalam. Bagaimana cara mempelajari bahasa Arab dengan mudah?
        Kamus bahasa Arab bisa menjadi salah satu solusi untuk mempelajarinya.
        Sebutlah Kamus Al-Munawwir. Kamus Al-Munawwir dapat menjadi rujukan utama untuk mempelajari sekaligus mengartikan teks - teks bahasa Arab atau menerjemahkan teks - teks bahasa Indonesia ke bahasa Arab. Harganya pun cukup terjangkau, hanya berkisar Rp80.000 hingga Rp120.000. Tidak ada salahnya untuk memilikinya sebagai bentuk usaha kita, umat muslim, mengembalikan kejayaan agama Islam dengan mempelajari ilmu agama yang hakiki. Untuk memesan Kamus Al-Munawwir, bisa menghubungi penulis melalui e-mail.
         Semoga agama Islam senantiasa menjadi rahmatan lil 'alamin yang menerangi seluruh dunia dengan ajaran yang mulia. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar