Guratan Sejarah SANTRI
Asia, khususnya Asia Tenggara, memiliki ciri khas dalam menghadirkan dakwah dan pendidikan Islam. Berdirinya lembaga pendidikan berupa pesantren adalah contohnya. Demikian menurut Howard M. Federspiel, seorang peneliti penddikan Islam, dalam The Oxford Encyclopedia of The Islamic World.
Penamaan 'pesantren' telah dikenal luas dan akrab dalam kultur masyarakat Jawa. Ada pun d Sumatra, lembaga pendidikan yang sama sering disebut sebagai surau, atau dalam kultur masyarakat Aceh sering pula disebut meunasah. Lain lagi dengan masyarakat ranah Melayu di luar Indonesia, seperti Malaysia dan Kamboja, yang lebih akrab dengan istilah pondok. Sedangkan orang - orang Filipina dan Singapura menggunakan istilah madrasah.
Dr. Zamakhsyari Dhofier, seorang ahli sosiologi dan antropologi, dalam bukunya 'Tradisi Pesantren', mencoba mendefinisikan genealogi istilah 'Pondok Pesantren'. Pondok, yang diambil dari bahasa Arab, yakni funduq, memiliki 'asrama' atau 'tempat tinggal'. Sementara itu, kata 'pesantren' berasal dari akar kata 'santri' yang mendapat imbuhan awalan pe dan akhiran an dalam kaidah bahasa Indonesia yang menunjukkan arti tempat. Dengan demikian, 'pesantren' berarti tempat tinggal para santri. Dr. Zamakhsyari Dhofier lalu mengutip pendapat para ahli sejarah seperti Profesor Johns, yang menyebutkan bahwa kata 'santri' berasal dari bahasa Tamil atau India yakni shastri, yang berarti orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci. Sejalan dengan pendapat beberapa tokoh India yang mengatakan bahwa 'shastri' sendiri diambil dari kata shastra yang berarti buku.
Sementara itu, Cornelis Christiaan Berg, seorang ahli botani asal Belanda, berpendapat bahwa kata 'santri' diserap dari bahasa Sanskerta, cantrik, yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Pendapat ini selaras dengan yang diungkapkan oleh Nurcholish Madjid, seorang maestro dan tokoh pembaruan gerakan Islam.
Segenap pemaparan tentang istilah 'pesantren' cenderung menegaskan bahwa cikal bakal lembaga pendidikan tersebut tidak lepas dari pengaruh budaya India. Memang, di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, dalam masa transisi memudarnya pengaruh Hindu-Budha sekaligus mulai menyebarnya dakwah Islam, para tokoh ulama' dan kyai seperti Wali Songo, banyak mentolerir dan tetap menjaga kelestarian adat dan budaya, yang di dalamnya juga termasuk sistem pendidikan yang merupakan warisan dari Hindu dan Budha. Seiring berjalannya waktu, mereka kemudian memodifikasi sistem pendidikan yang telah ada, sehingga menjadi lebih islami, untuk kemudian terus berkembang dan dikenal luas sebagai pesantren seperti yang kita kenal hingga sekarang.
Segenap pemaparan tentang istilah 'pesantren' cenderung menegaskan bahwa cikal bakal lembaga pendidikan tersebut tidak lepas dari pengaruh budaya India. Memang, di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, dalam masa transisi memudarnya pengaruh Hindu-Budha sekaligus mulai menyebarnya dakwah Islam, para tokoh ulama' dan kyai seperti Wali Songo, banyak mentolerir dan tetap menjaga kelestarian adat dan budaya, yang di dalamnya juga termasuk sistem pendidikan yang merupakan warisan dari Hindu dan Budha. Seiring berjalannya waktu, mereka kemudian memodifikasi sistem pendidikan yang telah ada, sehingga menjadi lebih islami, untuk kemudian terus berkembang dan dikenal luas sebagai pesantren seperti yang kita kenal hingga sekarang.
Sedangkan secara istilah dan budaya, 'santri' sendiri dikenal sebagai anak - anak yang tekun menuntut ilmu. Mereka juga dikenal taat menjalankan perintah agama dan kyai. Bahkan, sejarah mencatat bahwa kaum santri adalah orang - orang yang berada di garis depan dan rela berkorban demi mewujudkan kemerdekaan bangsa ini. Sehingga, santri dan pesantren tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dalam membentuk persatuan negara Indonesia. Harry J. Bend, seorang ahli sejarah asal Cekoslovakia, menuturkan bahwa dalam peradaban Indonesia, menjelang abad ke-17, keberadaan pesantren khususnya di Jawa, telah menjadi kutub penyeimbang terhadap kekuatan keraton dan kerajaan - kerajaan yang imperialis. Kesenjangan kultur yang terjadi mendapatkan hubungan diametralnya dengan adanya budaya Islam dan pesantren.
Hingga kini, pesantren dikenal sebagai tempat belajar bagi kaum intelektual Muslim yang mewarisi dan memelihara keberlanjutan tradisi keilmuan Islam sehingga sampai kepada dakwah sang Nabi, Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan, dalam dunia pesantren, sanad atau rentetan transmisi keilmuan antara guru dan murid begitu dihargai dan dimuliakan di sana.
Para santri, dalam misinya mengemban dakwah dan syiar Islam, pada umumnya belajar banyak hal di pesantren, Mulai dari tata bahasa Arab, ilmu Al-Qur'an dan tafsir, tauhid, akhlaq, hingga pengetahuan sejarah. Kemudian dalam corak pendidikan pesantren, setidaknya terdapat banyak ciri khas dan karakter yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain. Antara lain, pembelajaran adab bagi seorang murid untuk tunduk dan patuh akan petuah sang guru, pembiasaan untuk hidup sederhana, berlatih akan kepekaan terhadap lingkungan dan masyarakat, serta penghargaan seorang pembelajar terhadap ilmu. Sehingga adanya santri dan pesantren diharapkan dapat tetap menjaga keberlangsungan persatuan dan kesatuan negara ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar